Bunga Semerbak Mewangi
Oleh : Sisi Budiarti

Saat kau ada, dunia ku terasa berwarna
Elok rupa taman yang kau semaikan
Hingga kupu – kupu pun turut menari
Kau adalah bunga semerbak mewangi

Oh, sang bunga…
Kau berkepalakan mahkota berwarna
Dengan lapisan kelopakmu yang amat mempesona
Memperlihatkan kecantikan dan keindahanmu

Oh, bunga semerbak mewangi…
Wangi mu meresap ke dalam jiwa
Memberikan kebahagian dihati
Kau bunga penghibur lara

Tanpamu udara pun murung
Taman terasa hampa dan senyap
Ibu pertiwi kehilangan permatanya
Kau amat berharga bagi kami

Sisi Budiarti, 2020
Bunga Merebak Mewangi

Puisi ini mengungkapkan isi hati penulis di mana di dalamnya ada irama, lirik, rima, dan ritme pada setiap barisnya. Dikemas dalam bahasa yang imajinatif dan disusun dengan kata yang padat dan penuh makna. Dalam hal ini saya menggambarkan bunga semerbak mewangi yang memiliki keindahan yang amat berharga bagi negeri karena dengan adanya bunga bisa menambah nilai kepuasan diri seperti bahagia dan penghibur lara ketika kita bersedih dan lain sebagainya.

Kebun Bunga
Oleh : Sisi Budiarti

Aku baru saja membuka mata dari tidur malam, perlahan aku berjalan menuju kamar mandi.
Jam yang menunjukkan pukul 05.30 wib menuntunku tuk segera ke kebun bunga yang tak jauh
dari lokasi kontrakan. Sudah menjadi hal biasa yang tak dapat aku tolak dalam hidupku. Namun,
aku menjalaninya dengan tabah dan ikhlas. Selang beberapa menit, aku pun tiba disana dan
betapa senangnya aku melihat pemandangan pagi ini. Bunga – bunga bermekaran dan
memeberikan aroma semerbak mewangi. Aku mendekati bunga – bunga yang masih berembun,
tak kuat menahan rasa bahagia aku pun bernyayi riang sambil menyiram tanaman bunga.
Beberapa menit lamanya berlalalu dengan berat hati aku harus meninggalkan kebun bunga
sementara untuk menyambungnya sore nanti. Tak lupa aku ucapkan selamat tinggal bunga.
Sesampainya di kontrakan aku tiba – tiba tak sengaja mendengar suara orang bercakap di
telpon
“Dev aku mau kita ketemuan sore ini di kebun bunga” ujar deni
“kamu ngajak aku ketemuan di kebun bunga, mau ngapain ya den?” ujar devia
“nanti aku kasih tahu deh, mau ya..(sambil memohon)” ujar deni
“mmh iya deh” ujar devia
“oke sampai ketemu, see you” ujar deni
“see you” ujar devia
Melihat tingkah laku deni yang mencurigakan, aku berjalan masuk ke kamarnya, ia pun terkejut
melihat ku
“kaka” ujar deni
“kamu habis telponan sama devia ya?” Tanya ku
“mmh tidak kak” ujar deni
“kamu tidak usah bohong, kaka tidak masalah sih tapi, harus hati – hati ya kalau main di taman
bunga” ujar ku
“yuhu…makasih ya kak, mmh kaka mau aku telpon kak rizki buat kesana juga (sambil
tersenyum)” ujar deni
“Ih apaan sih kamu anak kecil sok tahu (sambil tersenyum malu)” ujar ku
“Tuh…tuh kan senyum” ujar deni
“Udah mandi sana! Kaka juga mau siap – siap nih ke sekolah”
“Oke kak” ujar deni
Aku dan deni tinggal berdua di kota perantauan, namun komunikasi dengan kedua orang tua
selalu kami jalin. Demi mengejar cita – cita kami bersekolah di kota agar mendapat pendidikan
yang lebih baik. Hingga memebawa aku pada aktivitas pembantu hidup kami selain beasiswa
dari sekolah. Sebuah keahlian yang aku dapatkan dari suatu keikhlasan hidup dengan menjadi
pemetik bunga, penyiram tanaman bunga, penjual bunga maupun terkadang aku juga menanam
bunga di kebun orang yang telah memberikan amanah pada ku.
Awan soren bersambut gembira, aku kembali ke tempat dimana aku harus berada. Disinilah
tempat aku mengais tuk sekedar memebeli tempe orek, bacem dan lainnya. Aku berputar
mengurus bunga yang sudah kuanggap seperti teman. Dia tempat ku curhat kala sedih merambah
di kalbuku. Dengan melihat kelopaknya yang bermekaran dari proses benang sari hingga ketahap
kuncup dan mengembang, semua itu tak dapat terukir dengan semudah membalikan telapak
tangan.
Dari kejauhan pijakan kaki deni mulai mendekati ku, dan ia pun berkata “ kaka ada orang tua
kita datang?”
“Serius kamu?” Tanya ku
“Iya kak” jawab deni
“Yaudah, kalau gitu kaka akan pulang ya” ujar ku
“yaudah cepat, ayo kak” ujar deni.
Saat tiba di kontrakan, dengan mata yang sedikit berkaca – kaca, aku bergegas melintasi
setiap jalan yang menghalangi kaki ku melangkah dengan jantung yang berdebar. Namun, entah
apa yang hendak dikata pintu terbuka tapi tak ada seorang pun yang terlihat oleh mata. Dengan
perasaan kecewa aku berkata “ mana, kenapa taka ada? di mana?”
“yah mungkin aku salah dengar kak” ujar deni
“maksud kamu apa den?” Tanya ku kembali
“Ya Allah dek kamu bohong sama kaka” ujar ku
“maaf kak”
Kemudian terlihat tapak devia yang terus mendekat “kak…. gawat … gawat” ujarnya
“kenapa? Ada apa dev? Tanya ku
“Itu…itu (sambil berhenti menhela nafas)” ujar devia
“ngomong yang jelas, kenapa?” Tanya ku lagi
“kebun bunga.. kebun bunga di rusak sama kambing kak” ujarnya
“yang benar, (dengan sigap langsung berlari)”
Aku memepercepat langkah, dengan persaan bersalah hingga sampai di kebun bunga, terlihat
taka da tanda – tanda yang menunjukkan kerusakan. Munculnya pak kades dan kepala sekolah
dari belakang semak samba berkata “Selamat ya, kamu mendapat perhargaan sebagai siswa
pencinta lingkuangan, setelah mendengar tindakan baik mu selama ini” ujar kepala sekolah
“terima kasih pak” ujar ku
“Selamat ya” ujar pak kades
“Selamat ya kaka ku tersayang (sambil tersenyum)” ujar deni
“jadi ini ide kamu dek” ujar ku
“ide kita semua” ujar semuanya kompak
“selamat ya kak” ujar devia
“oh jadi, ini ide kalian semua makasih kejutannya ya” ujar ku
Tak sampai disitu rizki datang membawa sekuntum bunga “ini untuk puteri kebun bunga dan
pecinta lingkungan”
“terima kasih riz”
Semua hari itu tertawa riang gembira, meskipun aku belum bertemu orang tua tapi aku
bahagia mempunya orang yang sayang pada ku yang setiidaknya akan menguatkan aku bertahan
di kota ini demi orang tua yang selalu ada di hati ku. Dengan ridho ilahi dan orang tua
mengantarkan aku hingga aku bisa memlihara dan merwat bunga – bunga yang menjadi teman sampinganku.

Sisi Budiarti, 2020
Kebun Bunga

Karya ini saya buat berdasarkan imajinasi yang bersifat cerita rekaan yang hanya fiktif belaka. Dari cerita saya menggambarkan seorang tokoh utama perempuan pelajar SMA yang hidup di daerah perantauan bersama adiknya. Ia tinggal di dalam sebuah kontrakan, sehingga dia harusbanting tulang demi memenuhi kebutuhan hidup sehari – harinya. Kebetulan untuk masalah pendidikan ia mendapat beasiswa. Namun dengan perjuangan dalam memetik, menjual, menyiram ataupun menanam bunga ia mendapat perhargaan dari sekolah dan desa. Kecintaan dan keikhlasan pada bunga yang haus kita contoh agar lingkungan kita bersih juga karena bunga sumber keindahan dan dapat menjadi teman kita juga jikalau sedih dan tetap semangat tuk mengapa cita – cita.